Arsip untuk ‘Uncategorized’ Kategori

Duka kita semua

9 Juni 2008

Assalamu Alaikum Wa al-Rohmah Wa al-Barokah
Innalillah Wa Inna Ilaihi Roojiuun
Telah meninggal hari ini, Senin Pon, 5 Jumadal Akhiroh 1429 H./ 9 Juni
2008 M pukul 11:30 WIB. KH. Hasan Basri Sa’id, Penasehat Lajnah
Falakiyah NU Jatim.
Semoga diampuni dosanya dan diterima semua amal baiknya dan semoga
keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan oleh Alloh SWT, Amin.
Wassalamu Alaikum Wa al-Rohmah Wa al-Barokah
kabar dari kmnu2000@yahoogroups.com

setelah satu tahun meninggalnya pakar ilmu falak Muhammadiyah ( K.H. Salamun) kini juga pakar falak NU, yang sama-sama dari daerah pantura

berikut biografi yang didapat dari http://pakarfisika.blogspot.com/2007/07/kiai-hasan-basri-said-pakar-falak-nu.html

Kiai Hasan Basri Said: Pakar Falak NU

GELAR akademis yang sekarang ini dikejar-kejar banyak orang sekolahan ternyata tidak penting bagi Kiai Hasan Basri Said (71), salah seorang kiai yang hingga kini tetap setia mengamati pergerakan benda-benda langit; menggeluti disiplin keilmuan paling unik di pesantren, ilmu falak. Bagi Kiai Hasan Basri, model pendidikan yang berorientasi pada gelar itu tidak akan memberikan kebanggaan apa-apa.

Ilmu yang berorientasi pada gelar dan kelulusan tidak akan bisa dinikmati sebagai ilmu itu sendiri karena pastinya tidak akan ada inovasi; tidak ada penemuan baru. Lihat bagaimana orang sekolahan hanya berputar-putar pada pakem dan target materi yang sudah baku. Lalu lihat bagaimana para sarjana yang hanya bersibuk dengan urusan teknis: bagaimana ilmunya bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan penghidupan, mencari dan memperbanyak uang. Bukankan seharusnya sebuah ilmu itu mandiri dan tidak goyak oleh apapun jua, apalagi sekedar uang. Biarkan ilmu itu terus berkembang untuk mencapai suatu peradaban yang setinggi-tingginya.

Dengan bangga Kiai Hasan Basri menunjukkan satu alat teropong bintang yang diciptakannya sendiri, yang mampu mengukur dan mengamati gerak gerik benda langit, juga untuk mengukur arah kiblat. Alat itu terbuat dari rangkaian pipa, termasuk pipa pengintip, dilengkapi dengan penggaris bulat, kompas, benang dan bandulan kecil.

Jika anda melihat dan coba memakai alat itu pasti kesan bahwa orang Indonesia, lebih-lebih orang pesantren, banya bisa memakai dan mengkonsumsi teknologi yang diciptakan oleh Barat itu akan hilang seketika. Sebenarnya kita bisa mencapai peradaban teknologi tinggi seperti Barat namun kita atau pemerintah kita enggan mencobanya. Kita hanya senang mengkonsumsi. Bisa dibayangkan, seharusnya kita tidak butuh waktu lama untuk merubah alat sederhana buatan Kiai hasan Basri menjadi alat modern yang terbuat dari bahan yang lebih awet. Namun proses panjang sebuah keilmuan –dalam hal ini—ilmu falak sehingga mampu menciptakan teropong bintang itu ternyata sudah terlampaui oleh orang-orang pesantren, paling tidak oleh Kiai Hasan Basri.

Maka, hal terpenting ketika seorang mengaku telah ”belajar”, kata Kiai Hasan Basri, adalah bagaimana berperan dalam masyarakat melalui ilmu yang didapat. Ini yang seharusnya dibanggakan. Jadi orang kemudian tidak sekedar mentereng hanya gara-gara bergelar tinggi tapi bagaimana ”hasil belajarnya” dapat berefek kepada dalam kehidupan masyarakat sekitarnya.

Apa boleh buat. Saat ini orang belajar hanya untuk mencari gelar. Ilmu itu sendiri tidak berarti apa-apa. Lebih-lebih disiplin keilmuan yang dikejar-kejar oleh orang-orang sekolahan hanyalah yang dibutuhkan untuk kepentingan mencari pekerjaan, bukan ilmu yang penting dikembangkan untuk mencapai peradaban tinggi. Ilmu falak atau ilmu astronomi misalnya tidak akan banyak peminat karena tidak menjanjikan pekerjaan yang mentereng, posisi terhormat, atau uang banyak.

Kiai Hasan Basri Said lahir pada 1935 di sebuah kota kecil di daerah Gresik, Jawa Timur. Sejak kecil ia belajar di satu madrasah di daerahnya. Lalu setelah merasa cukup usia ia beranjak ke pesantren Gontor Ponorogo. Di sana dia berdiam selama 6 tahun. Hasan Basri Muda pernah tiga kali menempuh pendidikan tinggi namun tidak pernah lebih dari satu semester. Ia pernah belajar di UII Yogyakarta, lalu ke Kedokteran UNAIR 1 semester, dan lalu ke kedokteran hewan Universitas Brawijaya Malang 1 semester. ”Saya nggeri kalau harus praktek dengan membedah babi,” katanya. Baginya belajar di kampus memang tidak perlu menyita waktu terlalu lama. Setelah merasa cukup mengenyam dunia kampus, ia merantau ke pulau Kalimantan.

Kiai Hasan Basri pernah menjadi sukarelawan di satu klinik yang didirikan organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) di daerah Gresik. Klinik itu ada mula-mula sebelum kemudian organisasi Islam Muhammadiyah dan yang lainnya juga mendidikan layanan kesehatan di sana. Lalu ia pindah menggeluti dunia koperasi hingga kini. Gaji yang diterimanya dari kantor koperasi lumayan untuk membiayai tiga orang anaknya yang sukarang sudah beranjak besar. Namun di tengah aktivitas apapun, satu yang tidak pernah dia lupakan adalah bahwa dia seorang pecinta ilmu falak.

Dia belajar ilmu falak sejak kecil. Ia pernah belajar kepada Kiai Romli Hasan, seorang pakar ilmu falak di daerah Gresik. Lalu ke daerah Bangil menemui Kiai Mu’thi dan belajar ilmu falak kepadanya. Namun setelah beranjak dewasa semangat untuk menggeluti ilmu falak itu entah kenapa mengendur. Semangat untuk mendalami ilmu falak itu kembali menggebu-gebu pada usianya yang ke-33 tahun, setelah mendapat dorongan dari istri tercinta Marsyadul Ilmi yang 15 tahun lebih muda darinya.

Waktu itu warga daerah setempat membutuhkan seseorang yang bisa mengukur arah kiblat. Kiai Hasan Basri seakan tidak mau tahu. Istrinya yang tahu kemampuan suaminya langsung bergumam, ” Ilmu dari Tuhan, kalau Bapak tidak manfaatkan maka bapak berdosa.” Dorongan istrinya inilah yang membuatnya bersemangat untuk terus menggeluti ilmu falak. Dia tidak ingin menyembunyikan ilmu Tuhan. Lagi pula, istrinya selalu memberikan dukungan agar Kiai Hasan Basri terus mengabdikan dirinya pada ilmu falak. ”Dia rela saya tinggal satu minggu, karena tahu bukan untuk pribadi saya,” kata Kiai Hasan Basri. Patokannya, katanya, ilmu itu tidak untuk dijual, jadi bisa dinikmati dan terus digeluti.

JanCoK

29 Mei 2008

banyak penyebutan tentang kata djancok, tapi yang bener apa ya,………….

kira-kira yang bener mana penulisannya, antara djiancok, djancok, jancok, djancuk, jancok, jancuk, diancuk, ato ada kata yang lain, tapi masih dalam pengucapan jancok ha ha ha

HELP ME………………………

AXIS in JoGJa

27 Mei 2008

Belum banyak yang tahu bertambahnya satu operotor di bumi Ngayogyakarta ini

Sekedar review aja……..

Dibandingkan dengan operator gsm yang lain operator ini belum support 3G, kecepatannya sih rata-rata stabil dengan menggunakan hanphone sebagai modem kecepatan yang didapat down sampai 32 kbps, up sampai 7 kbps, lumayanlah untuk koneksi internet mobile hahahaha……

Sampai saat ini belum ada nomor jogja, ini masih menggunakan nomor surabaya

BBM (antara kenaikan dan kompensasi)

23 Mei 2008

Akhirnya setelah sekian lama muncul isu tentang kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak), terjadi juga kenaikan yang diharapkan dengan amat sangat tidak rasional dalam sebuah kebijakan dan kebijaksanaan yang dibuat…..

Keputusan yang diambil dalam pengambilan keputusan ini menjadi momok bagi mereka yang hidupnya tergantung pada BBM, sebut saja misalnya Sopir, Pelajar, Pedagang dan lain sebagainya yang berkumpul dalam komunitas pengguna angkutan umum.

Lebih jauh lagi kita melihat maraknya pengguna kendaraan pribadi yang secara legal mereka terkadang belum punya keahlian yang ditinjau dari segi undang-undang tidak memperbolehkan mereka menggunakan kendaraan tersebut, bolehlah kita sebut orang-orang yang berada dibawah usia 17 tahun, secara legal mereka tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan bermesin atau apapun namanya.

Jika keadaan ini masih saja memperbolehkan mereka mempergunakan kendaraan maka akan timbul gejolak yang luar biasa besar bagi pengguna jalan serta layanan yang diberikan pemerintah pada kita semua, hal ini mengesankan bahwa pemerintah tidak becus menjalankan aturan-aturan yang dibuatnya…..

Kenaikan BBM boleh saja asal layanan yang dihasilkan pemerintah terhadap kepentingan publik terjaga.

WAISAK

21 Mei 2008

Pada suatu hari orang-orang Budha pada tidur sejak sore

waktu maghrib terlewati merek belum bangun

adzan isya mereka terbangun,

mereka bilang “wa…………….. isyak”.

Padahal mereka maunya bangun sebelum maghrib.
jadilah hari itu hari WAISAK he he he he

hanya bercanda kok